Masjid Agung Damaskus, Pengaruh ArsitekturMasjid Dunia
Ada sebuah tempat di Timur Tengah yang layak dikunjungi. Terletak di ujung Pasar Hamidiyyah, di kawasan jantung ibukota Suriah, Damaskus. Tempat suci ini merupakan lambang kejayaan peradaban Islam yang ternama, termegah, sekaligus tertua di dunia. Inilah Masjid Agung Damaskus.
Masjid ini dibangun-un pada masa Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik [88-96 H/705-715 M] dari Dinasti Umayyah. Semasa Dinasti Umayyah, Dam-askus menjadi ibukota dunia Islam. Para khalifah yang memerintah men-guasai seluruh kawasan, mulai dari Spanyol sampai ke India. Sejarah mencatat, peradaban Islam mening-galkan banyak bangunan indah di Damaskus, masjid ini adalah salah satunya.
Sejarah Pembangunan
Kota Damaskus dipercaya sebagai kota tertua yang secara terus-menerus berpenghuni di dunia. Masa kekuasaan Islam sampai ke kota Damaskus pada tahun 14 Hijriyah [653 M]. Pada awal Islam masuk ke Damaskus, umat Islam dan Kristen bersepakat untuk membagi tempat ibadah menjadi dua bagian: sebe-lah Timur untuk masjid; sebelah Barat untuk gereja. Kedua umat agama ini beribadah di satu tempat yang hanya dipisahkan sebuah dinding. Umat Islam mengumandangkan adzan, sedangkan umat Kristen membunyikan lonceng. Hal tersebut berlangsung kurang lebih selama 70 tahun, hingga 705 Masehi.
Pada akhirnya, Khalifah Al-Walid menghancurkan gereja dan mulai mem-bangun masjid. Pemban-gunan masjid memakan waktu kurang lebih 10 tahun. Konon, Al-Walid sendiri yang yang memulai pembongkaran dengan memancangkan paku emas ke dalam gereja. Beliau memberikan kompensasi kepada umat Kristen dan mengizinkan pembangunan gereja di kawasan Thomas Gate.
Arsitektur yang Megah
Masjid yang juga dikenal dengan nama Masjid Umayyah ini berdiri di atas tanah yang dianggap suci selama setidaknya 3.000 tahun. Pembangunannya melibatkan para pengukir dan pemahat Koptik, Persia, India, dan Bizan-tium. Masjid megah ini merupakan salah satu bangunan paling impresif di dunia Islam. Arsitek-turnya telah memeberi pengaruh seni bangun masjid di seluruh dunia. Dari masjid inilah, aristek tur Islam mulai mengenal lengkungan, menara, dan maksurah.
Komplek Masjid Agung Damaskus terdiri dari dari ruang shalat utama, ditambah dengan hala-man tengah yang mampu menampung ratusan jamaah sekaligus. Tata letaknya merujuk pada bangunan Masjid Nabawi di Madinah.
Ruang shalat ketiga sepanjang 160 meter terlapisi kayu berukir pada plafonnya, juga didukung dengan tiang-tiang dari reruntuhan bangunan kuil Romawi. Bagian fasadnya dipenuhi keramik dan mozaik yang terbuat dari kaca dan lapisan emas. Masjid ini mungkin merupa-kan masjid dengan mozaik berlapis emas terbesar di dunia lebih dari 400 meter persegi. Sementara menara masjid terletak tak jauh dari bekas menara kuil Temenos Romawi.
Masjid Agung Damaskus sudah beberapa kali men-galami renovasi dan per-baikan karena kebakaran pada tahun 1069, 1401, dan 1893 Masehi. Panel marbel dianggap telah merusak mozaik awal masjid tersebut tahun 1893. Meskipun demikian, beberapa mozaik asli dari abad ke-8 M masih dapat dilihat di masjid ini.
Menara Masjid Pertama
Menurut sarjana Inggris terkemuka yang mengkaji arsitektur Islam, KAC Creswell, Masjid Quba’ yang dibangun Nabi Muhammad Saw di Madinah tak dilengkapi dengan menara. “Pada saat Nabi Muhammad membangun masjid itu, menara belum dikenal,” ungkap Creswell. Dalam Ensiklo-pedi Tematis Dunia Islam 4: Pemikiran dan Peradaban disebutkan bahwa semasa Rasulullah Saw hidup, panggilan untuk shalat dikumandangkan dari atap rumahnya di Madinah.
Begitu pula pada era kepemimpinan Khulafa ar-Rasyidin, papar Creswell, masjid-masjid yang dibangun belum dilengkapi dengan menara. Hanya saja, ada semacam ruang kecil di puncak teras masjid sebagai tempat muadzin mengumandangkan adzan.Lalu, kapankah sebuah masjid memiliki menara?
Bisa dikatakan Khalifah Al-Walid merupakan tokoh yang pertama kali memasukkan unsur menara dalam arsitektur masjid. Beliau memiliki selera tinggi dalam seni bangunan. Inilah sejarah pertama tradisi menara sebagai salah satu unsur khas pada masjid.
Tradisi membangun menara diawali Khalifah Al-Walid ketika memugar bekas basilika Santo Johanes [Yahya] menjadi sebuah masjid besar, yang merupakan cikal bakal Masjid Agung Damaskus. Pada bekas basilika terse-but terdapat dua buah menara yang berfungsi sebagai penunjuk waktu: lonceng pada siang hari dan kerlipan lampu pada malam hari.
Menara itu adalah salah satu ciri khas bangunan Bizantium. Rupanya, Khalifah Al-Walid tertarik untuk mempertahankan kedua menara tersebut. Bahkan, kemudian ia membangun sebuah menara lagi di sisi Utara pelataran masjid tepat di atas Gerbang al-Firdaus. Menara ini disebut Menara Utara Masjid Damaskus. Tahun berikutnya, beliau memugar Masjid Nabawi di Madinah. Masjid ini tak mempunyai satu pun menara pada awalnya. Al-Walid lalu memerintahkan para arsiteknya untuk membangunkan menara masjid sebagai tempat muadzin untuk menguman-dangkan adzan.



Facebook
Twitter
del.icio.us
Digg
Thanks for sharing.
Post your comment