H. Baluki Ahmad: Jika Kita Bepergian, Bawalah Serta Hati
“Haji itu perjuangan.” Itulah falsafah yang diyakini H. Baluki Ahmad, Ketua Umum Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji. Bahwa ibadah haji bukanlah sekadar kesiapan finansial, tetapi juga bentuk perjuangan fisik, ilmu, serta hati.
Dalam balutan jas semi-wol, sosok berperawakan tinggi sedang ini menyambut di Lobi Hotel Kota Bukit Indah Plaza, Purwakarta. Di sela Rapat Kerja Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji [HIMPUH], sosok hangat itu menyempatkan diri menerima kedatangan Thawaf Magz dengan ramah. Ia lalu bicara banyak seputar umrah, haji, dan kemabruran.
Kelahiran Cirebon, 55 tahun yang lalu ini menyampaikan bahwa banyak hal yang harus disiapkan para calon jamaah haji sebelum berangkat ke Tanah Suci. Setelah perkara finansial tercukupi, maka yang harus disiapkan calon jamaah ialah fisik. Kondisi geografis yang sangat berbeda menuntut daya tahan tubuh ekstra. “Pastikan tubuh Anda sehat sebelum berangkat ke Tanah Suci,” paparnya.
Hal lain yang harus dimiliki calon jamaah ialah kesiapan ilmu. Ketua Umum HIMPUH ini menegaskan, “Jangan sampai jamaah tidak tahu apa yang harus dilakukannya di Tanah Suci.” Inilah salah satu tugas para penyelenggara umrah dan haji, memberikan bimbingan ibadah sebelum keberangkatan agar jamaah tercukupi ilmunya seputar umrah dan haji.
Adakah yang membekas di hati setelah berhaji? Apakah kualitas hidupnya bertambah baik setelah haji? Apakah kehajiannya berdampak baik pada lingkungan sekitar hidupnya?
Penanggungjawab Bina Wisata ini juga menambahkan bahwa hal yang terpenting bagi calon jamaah haji ialah kesiapan hati. Perjalanan umrah dan haji bukanlah perjalanan wisata yang dapat dilakukan kapan saja. Perlu kesiapan hati untuk berkunjung ke tempat-tempat suci yang penuh kebesaran Allah swt. Mantapkan niat ibadah hanya karena Allah semata.
“Jika kita berpergian ke mana pun tujuannya bawalah serta hati. Niscaya langkah kita akan terasa ringan dan semoga mendapat keberkahan,” tutur H. Baluki Ahmad meyakinkan. Bisa saja tubuh seseorang sedang berada di Arafah tetapi hatinya tertinggal entah di mana. Semua tergantung pada niat masing-masing jamaah, berkunjung ke Tanah Suci untuk sekadar wisata atau beribadah.
Kemambruran Haji Mabrur [bahasa Arab] yang berasal dari kata barrayaburru-barran berarti taat berbakti. Dalam kamus al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap karangan Ahmad Warson Munawwir terbitan Pustaka Progressif Surabaya dijelaskan kata-kata albirru artinya ketaatan, kesalehan atau kebaikan. Sedangkan mabrur artinya haji yang diterima pahalanya oleh Allah swt. Dalam kaitan ini, Nabi Muhammad Saw bersabda: “Haji yang mabrur tiada balasan kecuali surga’’ [HR Bukhari dan Muslim].
Selain niat dan proses pelaksanaan ibadah yang sesuai dengan kaidah Islam, hal yang menandakan kemambruran haji seseorang, menurut H. Baluki Ahmad, dapat dilihat dari sepulangnya ia dari Tanah Suci.
“Adakah yang membekas di hati setelah berhaji? Apakah kualitas hidupnya bertambah baik setelah haji? Apakah kehajiannya berdampak baik pada lingkungan sekitar hidupnya?” Demikianlah beliau menyampaikan penilaiannya soal mabrur atau tidaknya haji seseorang. Tetapi, kembali lagi ke Allah swt, bahwa hanya Ia yang berhak menilai baik-buruk manusia.
Tak Ada yang Ideal
Pengalaman berhaji pertamanya pada tahun 1977 adalah hal yang sangat disyukuri oleh suami Hj. Dewi Anggraini ini. Dalam perjalanan hidupnya pun ia tak lepas dari perkara rukun Islam kelima tersebut. Menurutnya, haji adalah pilar penyempurnaan keislaman seorang Muslim bagi yang mampu. Beliau selalu mengharapkan penyelenggaraan umrah dan haji yang baik. Baik menurut jamaah, baik menurut Allah swt.
Saat ditanya bagaimanakah haji yang ideal, beliau menyebut bahwa ideal adalah hal yang relatif. “Tidak ada yang ideal di dunia ini karena semua bersifat relatif termasuk Haji. Tetapi tentunya hal baik dapat diusahakan,” tambahnya lagi.
Sebagai Ketua Umum HIMPUH, Baluki berusaha mengupayakan hal terbaik dalam penyelenggaraan ibadah umrah dan haji bagi masyarakat Indonesia. Kepada rekan-rekannya di HIMPUH, ia mengedepankan komunikasi tatap muka supaya tidak terjadi kesalahpahaman antara pihak satu dan lainnya.
“HIMPUH melakukan negosiasi rutin dengan Muasasah Asia Tenggara bidang Haji VIP untuk mendapatkan pelayanan terbaik di Arafah dan Mina.” Itulah salah satu misi yang dikerjakan HIMPUH. Baluki selalu berupaya membantu anggota HIMPUH dalam kemudahan administrasi haji di Kementrian Agama.
“Inilah tugas kami, sebagai regulator antara penyelenggara umrah dan haji yang terdaftar dalam HIMPUH dengan pemerintah. Kamilah yang jadi jembatan di antara keduanya,” tuturnya mantap. Saat ini, anggota HIMPUH berjumlah 218 penyelenggara umrah dan haji yang semuanya memiliki izin resmi pemerintah.
Seputar HIMPUH
Pada mulanya, HIMPUH yang dipimpin H. Baluki Ahmad bernama AMPHURI [Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Indonesia]. AMPHURI adalah organisasi penyelenggara ibadah haji khusus [PIHK]--dahulu bernama ONH Plus--yang didirikan pada 15 Oktober 2006.
Saat itu AMPHURI mewadahi tiga organisasi PIHK, yaitu: AMPUH [Asosiasi Muslim Penyelenggara Umrah dan Haji], AMPPUH [Asosiasi Muslim Penyele¬nggara Perjalanan Umrah dan Haji], dan SEPUH [Serikat Penyelenggara Umrah dan Haji].
Menteri Agama saat itu, Muhammad Maftuh Basyuni, meminta ketiga organisasi tersebut melebur menjadi satu, dan para pengusaha haji plus sepakat membentuk AMPHURI. Namun muncul perpecahan dalam tubuh AMPHURI [AMPHURI I dipimpin Baluki Ahmad, AMPHURI II dikomandoi Fuad Hassan Masyhur.]
Untuk mengakhiri perseteruan, akhirnya AMPHURI pimpinan Baluki Ahmad mengubah nama menjadi Himpunan Penyelenggarara Umrah dan Haji [HIMPUH]. “Apalah arti sebuah nama? Yang penting kondisi organisasi berjalan baik,” Baluki menegaskan.



Facebook
Twitter
del.icio.us
Digg
Post your comment