Home | Features | Hikayat | Dome of The Rock: Sebuah Mahakarya

Dome of The Rock: Sebuah Mahakarya

Font size: Decrease font Enlarge font
image Dome Of The Rock

Malam itu, malam 27 Rajab di tahun kenabian, Rasulullah dibangunkan dari lelapnya untuk menempuh sebuah perjalanan yang amat jauh Peristiwa ini kemudian disebut sebagai Isra’ Mi’raj.

Adalah Malaikat Jibril yang mendapat tugas dari Allah swt untuk mengantarkan Rasulullah dari Masjid al-Haram di Mekkah ke Masjid al-Aqsha di Yerusalem, lalu membawanya menuju Sidrat al Muntaha di Langit Ketujuh. Di sana, Muhammad Saw menerima perintah shalat lima waktu dari Sang Maha Segala. Sebuah peristiwa penting yang tiap tahunnya dirayakan umatnya di seluruh dunia--tahun ini Isra Mi’raj jatuh pada 29 Juni 2011.

Al-Qur’an menceritakan peristiwa tersebut: “Maha suci Allah yang menjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Majidil Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya agar Kami memperlihatkan kepadanya sebahagian tanda-tanda [kebesaran] Kami.” [QS. al-Isrâ’ [17]: 1].

Dalam sejarah Isra Mi’raj yang tercatat di Ensiklopedi Tematis Dunia Islam: Pemikiran dan Peradaban, terdapat sebuah tempat yang merupakan titik tolak Rasulullah menuju langit di sisi kota Yerusalem yang disebut Temple Mount. Sedangkan kaum Muslim menyebut wilayah tersebut sebagai Haram al-Quds asy-Syarif atau Kawasan Suci dan Mulia.

Pada tahun 685 Masehi, Khalifah Abdul Malik bin Marwan berkuasa dan memerintahkan pembangunan sebuah kubah guna melindungi batu bersejarah tersebut dari cuaca buruk dan para pengunjung yang kian ramai. Kubah itu akhirnya terkenal dengan sebutan Qubah ash-Shakhra [Kubah Batu]. Sebanyak 10.000 Dinar emas dilebur untuk melapisi bagian luar kubah tersebut. Dalam bahasa Inggris, bangunan itu terkenal dengan sebutan Dome of The Rock.

Lambang Kemenangan Islam
Dome of the Rock adalah sebuah mahakarya yang berasal dari masa awal peradaban Islam. Kubah Batu itu mempunyai peran vital dalam evolusi bangunan di dunia Islam, terutama dari sisi corak arsitekturalnya. Di lokasi yang sama juga dipercaya sebagai tempat kuil Yahudi pertama kali, lalu ada sebuah batu yang menjadi tempat Ibrahim diperintahkan menyembelih anaknya, Ismail, yang kemudian oleh Allah digantikan dengan seekor sembelihan yang besar.

Pada awalnya, tempat itu sempat dijadikan kiblat bagi kaum Muslim sebelum akhirnya berpindah ke Ka'bah di Mekkah. Kubah Batu ini bukanlah bangunan yang merepresentasikan budaya Islam, meskipun kenyataannya bangunan ini didirikan orang-orang Muslim dan fungsinya berkaitan dengan penaklukan Islam atas musuh-musuhnya. Kubah Batu sebenarnya adalah monumen untuk kemenangan tersebut.

Kubah Batu berbeda bentuknya dengan bangunan masjid pada umumnya. Perancangan Pembangunan Kubah Batu didasarkan pada perhitungan geometris, terutama dalam penentuan bentuk dan titik-titik pada denah bangunan. Bentuk denahnya yang segi delapan [oktagonal] berbeda dengan prinsip bangunan masjid.

Yang membuat Kubah Batu itu merupakan bangunan Islam bukan bentuknya, tetapi tujuannya. Tujuan tersebut diungkapkan bukan dalam bahasa artistik yang ada di dalamnya, melainkan terbaca dalam bentuk non-arsitekturalnya, yakni tulisan-tulisan Arab yang terdapat pada bagian dinding bangunan tersebut.

Tempat Suci Penuh Kontroversi
Tempat berdirinya batu titik tolak Nabi Muhammad Saw ke langit juga terkenal dengan nama Gunung Mouri. Kaum Yahudi, Kristen, dan sebagian Muslim meyakininya sebagai tempat Ibrahim As hendak mengurbankan putranya Ismail As yang Allah gantikan dengan seekor qibas [sejenis domba]. Sementara sebutan Temple Mount atau Gunung Kuil diberikan kaum Yahudi yang konon dipercaya sebagai Kuil Sulaiman As, karena di sana sempat berdiri sebuah kuil Yahudi. Kuil tersebut runtuh pada tahun 70 Masehi.

Kubah Shakhrah ini kemudian diperkenalkan bangsa Israel kepada dunia internasional sebagai Masjid al-Aqsha. Hal ini jelas sekali untuk mengelabui umat Islam di seluruh dunia karena Kubah Shakhrah ini terletak tak jauh dari Masjid al-Aqsha masih di area yang sama di al-Haram asy-Syarif.

Menurut beberapa pengamat Islam, tujuan Israel ialah agar kaum Yahudi dapat menghancurkan al-Aqsha dan membangun Solomon Temple [Kuil Sulaiman] pada bekas reruntuhan al-Aqsha.

Membicarakan sejarah memang tak ada habisnya, apalagi menyangkut tempat sakral yang diakui tiga agama sekaligus. Semoga saja, kelak tempat ini tak menjadi alasan hancurnya peradaban, tetapi justru menjadi simbol kerukunan antar-umat beragama di dunia.

Subscribe to comments feed Comments (2 posted):

Plumber hertfordshire on 13/12/2011 05:43:18
avatar
Wow lovely looking superb.
Thumbs Up Thumbs Down
0
Seo freelancer on 22/12/2011 07:41:57
avatar
So nice post.I love to read all post related to Islam.
Thumbs Up Thumbs Down
0
total: 2 | displaying: 1 - 2

Post your comment comment

Please enter the code you see in the image:

  • email Email to a friend
  • print Print version
  • Plain text Plain text
Tags
No tags for this article
Rate this article
0